Showing posts with label Muhammad. Show all posts
Showing posts with label Muhammad. Show all posts

Thursday, 11 March 2010

Shalawat Atas Nabi SAW

Topkapı Palace gate with Shahadah and his seal...Image via Wikipedia


Oleh KH. Rahmat Abdullah

Apa yang Tuan pikirkan tentang seorang laki-laki berperangai amat mulia, yang lahir dan dibesarkan di celah-celah kematian demi kematian orang-orang yang amat mengasihinya? Lahir dari rahim sejarah, ketika tak ada seorangpun mampu mengguratkan kepribadian selain kepribadiannya sendiri. Ia produk ta'dib Rabbani (didikan Tuhan) yang menantang mentari dalam panasnya dan menggetarkan jutaan bibir dengan sebutan namanya, saat muaddzin mengumandangkan adzan.

Di rumahnya tak dijumpai perabot mahal. Ia makan di lantai seperti budak, padahal raja-raja dunia iri terhadap kekokohan struktrur masyarakat dan kesetiaan pengikutnya. Tak seorang pembantunya pun mengeluh pernah dipukul atau dikejutkan oleh pukulannya terhadap benda-benda di rumah. Dalam kesibukannya ia masih bertandang ke rumah puteri dan menantu tercintanya, Fathimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib.

Fathimah merasakan kasih sayangnya tanpa membuatnya menjadi manja dan hilang kemandirian. Saat bani Makhzum memintanya membatalkan eksekusi atas jenayah seorang perempuan bangsawan, ia menegaskan: "Sesungguhnya yang membuat binasa orang-orang sebelum kamu ialah, apabila seorang bangsawan mencuri kamu biarkan dia dan apabila yang mencuri itu rakyat jelata mereka tegakkan hukum atas-nya. Demi Allah, seandainya Fathimah anak Muhammad mencuri, maka Muhammad tetap akan memotong tangannya."

Hari-harinya penuh kerja dan intaian bahaya. Tapi tak menghalanginya untuk -- lebih dari satu dua kali -- berlomba jalan dengan Humaira, sebutan kesayangan yang ia berikan untuk Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq. Lambang kecintaan, paduan kecerdasan dan pesona diri dijalin dengan hormat dan kasih kepada Ash-Shiddiq, sesuai dengan namanya "si Benar". Suatu kewajaran yang menakjubkan ketika dalam sibuknya ia masih menyempatkan memerah susu domba atau menambal pakaian yang koyak. Setiap kali para shahabat atau keluarganya memanggil ia menjawab: "Labbaik". Dialah yang terbaik dengan prestasi besar di luar rumah, namun tetap prima dalam status dan kualitasnya sebagai "orang rumah".

Di bawah pimpinannya, laki-laki menemukan jati dirinya sebagai laki-laki dan pada saat yang sama perempuan mendapatkan kedudukan amat mulia."Sebaik-baik kamu ialah yang terbaik terhadap keluarganya dan akulah orang yang terbaik diantara kamu terhadap keluargaku." "Tak akan memuliakan perempuan kecuali seorang mulia dan tak akan menghina perempuan kecuali seorang hina," demikian pesannya.

Di sela 27 kali pertempuran yang digelutinya langsung (ghazwah) atau di panglimai shahabatnya (sariyah) sebanyak 35 kali, ia masih sempat mengajar Al-Qur'an, sunnah, hukum, peradilan, kepemimpinan, menerima delegasi asing, mendidik kerumahtanggaan bahkan hubungan yang paling khusus dalam keluarga tanpa kehilangan adab dan wibawa. Padahal, masa antara dua pertempuran itu tak lebih dari 1,7 bulan.

Setiap kisah yang dicatat dalam hari-harinya selalu bernilai sejarah. Suatu hari datanglah ke masjid seorang Arab gunung yang belum mengerti adab di masjid. Tiba-tiba ia kencing di lantai masjid yang berbahan pasir. Para shahabat sangat murka dan hampir saja memukulnya. Sabdanya kepada mereka: "Jangan. Biarkan ia menyelesaikan hajatnya." Sang Badui terkagum. Ia mengangkat tangannya, "Ya Allah, kasihilah aku dan Muhammad. Jangan kasihi seorangpun bersama kami." Dengan senyum ditegurnya Badui tadi agar jangan mempersempit rahmat Allah.

Ia kerap bercengkerama dengan para shahabatnya, bergaul dekat, bermain dengan anak-anak, bahkan memangku balita mereka di pangkuannya. Ia terima undangan mereka; yang merdeka, budak laki-laki atau budak perempuan, serta kamu miskin. Ia jenguk rakyat yang sakit di ujung Madinah. Ia terima permohonan ma'af orang.

Ia selalu lebih dulu memulai salam dan menjabat tangan siapa yang menjumpainya dan tak pernah menarik tangan itu sebelum shahabat tersebut yang menariknya. Tak pernah menjulurkan kaki di tengah shahabatnya hingga menyempitkan ruang bagi mereka. Ia muliakan siapa yang datang, kadang dengan membentangkan bajunya. Bahkan ia berikan alas duduknya dan dengan sungguh-sungguh. Ia panggil mereka dengan nama yang paling mereka sukai. Ia beri mereka kuniyah (sebutan bapak atau ibu si Fulan). Tak pernah ia memotong pembicaraan orang, kecuali sudah berlebihan. Apabila seseorang mendekatinya saat ia sholat, ia cepat selesaikan sholatnya dan segera bertanya apa yang diinginkan orang itu.

Pada suatu hari dalam perkemahan tempur ia berkata: "Seandainya ada seorang shalih mau mengawalku malam ini." Dengan kesadaran dan cinta, beberapa shahabat mengawal kemahnya. Di tengah malam terdengar suara gaduh yang mencurigakan. Para shahabat bergegas ke arah sumber suara. Ternyata Ia telah ada di sana mendahului mereka, tagak di atas kuda tanpa pelana. "Tenang, hanya angin gurun," hiburnya. Nyatalah bahwa keinginan ada pengawal itu bukan karena ketakutan atau pemanjaan diri, tetapi pendidikan disiplin dan loyalitas.

Ummul Mukminin Aisyah Ra. Berkata : "Rasulullah SAW wafat tanpa meninggalkan makanan apapun yang dimakan makhluk hidup, selain setengah ikat gandum di penyimpananku. Saat ruhnya dijemput, baju besinya masih digadaikan kepada seorang Yahudi untuk harga 30 gantang gandum."

Sungguh ia berangkat haji dengan kendaraan yang sangat seerhana dan pakaian tak lebih dari 4 dirham, seraya berkata,"Ya Allah, jadikanlah ini haji yang tak mengandung riya dan sum'ah." Pada kemenangan besar saat Makkah ditaklukkan, dengan sejumlah besar pasukan muslimin, ia menundukkan kepala, nyaris menyentuh punggung untanya sambil selalu mengulang-ulang tasbih, tahmid dan istighfar. Ia tidak mabuk kemenangan.

Betapapun sulitnya mencari batas bentangan samudera kemuliaan ini, namun beberapa kalimat ini membuat kita pantas menyesal tidak mencintainya atau tak menggerakkan bibir mengucapkan shalawat atasnya: "Semua nabi mendapatkan hak untuk mengangkat do'a yang takkan ditolak dan aku menyimpannya untuk ummatku kelak di padang Mahsyar nanti."

Ketika masyarakat Thaif menolak dan menghinakannya, malaikat penjaga bukit menawarkan untuk menghimpit mereka dengan bukit. Ia menolak, "Kalau tidak mereka, aku berharap keturunan dari sulbi mereka kelak akan menerima da'wah ini, mengabdi kepada Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun."

Mungkin dua kata kunci ini menjadi gambaran kebesaran juwanya. Pertama, Allah, Sumber kekuatan yang Maha dahsyat, kepada-Nya ia begitu refleks menumpahkan semua keluhannya. Ini membuatnya amat tabah menerima segala resiko perjuangan; kerabat yang menjauh, shahabat yang membenci, dan khalayak yang mengusirnya dari negeri tercinta. Kedua, Ummati, hamparan akal, nafsu dan perilaku yang menantang untuk dibongkar, dipasang, diperbaiki, ditingkatkan dan diukirnya.

Ya, Ummati, tak cukupkah semua keutamaan ini menggetarkan hatimu dengan cinta, menggerakkan tubuhmu dengan sunnah dan uswah serta mulutmu dengan ucapan shalawat? Allah tidak mencukupkan pernyataan-Nya bahwa Ia dan para malaikat bershalawat atasnya (QS 33:56 ), justru Ia nyatakan dengan begitu "vulgar" perintah tersebut, "Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah atasnya dan bersalamlah dengan sebenar-benar salam."

Allahumma shalli 'alaihi wa'ala aalih !





Reblog this post [with Zemanta]

Ma'rifatullah

A green version of http://commons.wikimedia.or...Image via Wikipedia

Oleh Syamsu Hilal

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?’ Tentu mereka akan menjawab, ‘Allah’. Maka betapakah mereka dapat dipalingkan dari jalan yang benar” (QS Al-Ankabut: 61).

Pada sebuah pertandingan bola voli antar-RT memperingati hari proklamasi di bilangan Mampang Jaksel, seorang penonton, sebut saja Nico, merasa jengkel melihat ulah seorang bapak setengah baya yang menyandera bola voli dengan cara mendudukinya. Karuan beberapa jenak pertandingan sempat terhenti. Bola voli itu disandera akibat smash salah seorang pemain di seberang net tepat mengenai tubuh bapak yang dikenal bernama Haji Mugni.

Panitia hanya diam saja. Melihat pemandangan itu, Nico yang baru sebulan tinggal di sebuah rumah kontrakan dekat lapangan bola voli, langsung mendekati Haji Mugni yang belum dikenalnya. Nico mengumpat kesal sembari merebut bola voli yang diduduki Haji Mugni, lalu melemparkannya ke tengah lapangan. Pertandingan voli dilanjutkan kembali. Haji Mugni diam saja. Panitia salut dengan keberanian Nico. Setelah kejadian itu, salah seorang panitia membisikkan sesuatu ke telinga Nico. Aneh. Wajah Nico langsung pucat. Selidik punya selidik, rupanya panitia itu baru saja memberi tahu bahwa orang yang bernama Haji Mugni itu adalah seorang jawara yang disegani.

Begitulah Nico, lantaran belum mengenal (ma’rifah) Haji Mugni ia berani menentang Haji Mugni. Tapi setelah diperkenalkan oleh seseorang, siapa sesungguhnya Haji Mugni, muncullah rasa takutnya. Sama halnya dengan seorang anak balita yang “berani” menyentuh api atau memegang kabel listrik bertegangan tinggi. Tindakan itu sama sekali bukan tindakan berani, tapi sekali lagi karena faktor ketidaktahuan.

Dalam Islam, orang-orang yang “berani” melanggar ketentuan Allah, apakah itu shalat, puasa, atau zakat, dalam beberapa kasus hal itu disebabkan lantaran mereka belum ma’rifah kepada Allah dalam arti sesungguhnya. Ini mirip dengan kisah orang-orang kafir Quraisy pada masa Rasulullah Saw. yang apabila ditanyakan kepada mereka siapa yang menurunkan hujan dari langit dan yang menumbuhkan pepohonan dari bumi, mereka akan menjawab Allah. Tapi, bila mereka diperintahkan untuk meng-Esa-kan Allah dan menjauhi penyembahan berhala, mereka akan mengatakan bahwa penyembahan berhala yang mereka lakukan adalah warisan budaya leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan.

Dalam Islam, mengenal Allah (ma’rifatullah) adalah persoalan penting dan wajib, karena hal ini menyangkut aqidah.

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada ilah melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi dosa orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tempat tinggalmu” (QS Muhammad: 19).

Dalam ayat ini, Allah Swt. menggunakan fi’il amr (kata kerja perintah) yang berarti wajib setiap Muslim untuk ma’rifah kepada Allah.

Kenal bukan hanya sekedar tahu. Kita tahu Bush Presiden Amerika Serikat, tapi kita baru kenal Bush setelah membaca dan melihat sepak terjangnya yang angkuh, arogan, hobi berperang, dan menindas umat Islam lewat televisi dan media cetak. Dari informasi-informasi tersebut, akhirnya kita menyimpulkan bahwa kezaliman Bush harus segera dihentikan. Inilah konsep ma’rifah yang sebenarnya. Ma’rifah adalah sebuah proses perpikir yang menghasilkan tindakan, baik berupa pernyataan maupun sikap.

Imam Ghazali menyatakan bahwa ma’rifah adalah sebuah tingkatan kecerdasan, yaitu mengumpulkan dua atau lebih informasi untuk menghasilkan sebuah kesimpulan. Dan dari kesimpulan itulah muncul tindakan atau sikap. Bukan ma’rifah namanya bila apa yang diketahuinya tidak menghasilkan tindakan. Seseorang yang mengaku mengenal Allah, tapi tidak menghasilkan ketundukkan, ketaatan, loyalitas, dan penghambaan kepada Allah, sesungguhnya dia berlum ma’rifah kepada Allah.

Seseorang yang sedang jatuh cinta akan selalu memikirkan kecantikan, kebaikan, kelembutan, dan keramahan kekasihnya. Memikirkan hal-hal semacam itu sudah cukup membahagiakan hatinya. Selain itu, ia pun akan selalu menjaga jangan sampai kekasihnya benci dan menjauhi dirinya. Oleh karenanya, ia akan selalu tampil baik, sopan, ramah, murah hati, dan lembut di depan kekasihnya. Kalaupun ia memiliki sifat buruk, maka di hadapan kekasihnya ia akan berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan sifat-sufat buruk tersebut. Orang yang tengah jatuh cinta, biasanya selalu berusaha untuk menyelami sifat dan hobi sang kekasih dan sedapat mungkin berusaha untuk mendekatkan diri dengan sifat dan hobi kekasihnya itu, meskipun sebenarnya sifat dan hobinya berbeda.

Seperti itulah seharusnya orang yang mengaku ma’rifah kepada Allah. Mari kita resapi sebuah teladan tentang ma’rifatullah seorang anak manusia. Ketika menuruni sebuah lembah, Umar bin Khaththab yang ditemani salah seorang sahabatnya bertemu dengan seorang anak yang tengah menggembalakan ratusan ekor kambing milik tuannya. Umar ingin menguji ma’rifatullah anak tersebut dengan medesaknya agar mau menjual seekor saja dari kambing gembalaannya. “Juallah kepadaku salah seekor kambing yang engkau gembalakan itu,” pinta Umar. “Aku tidak berhak menjualnya, karena kambing-kambing itu milik tuanku,” jawab si penggembala. “Katakan saja pada tuanmu bahwa salah seekor kambing hilang diterkam srigala,” uji Umar. Dengan tegas si penggembala berkata, “Aku bisa saja mengatakan salah seekor kambing milik tuanku hilang atau mati diterkam srigala. Mungkin ia akan mempercayai alasanku, tapi bagaimana dengan Allah? Bukankah Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui?” Mendengar jawaban itu, Umar menangis terharu. Lalu beliau membebaskan penggembala itu dengan cara menebusnya.

Perhatikanlah! Orang yang ma’rifah kepada Allah meyakini bahwa setiap gerak langkahnya, ucapannya, dan getaran hatinya selalu diawasi oleh Allah, karena Allah Maha Melihat dan Maha Mengawasi. Semut hitam yang berjalan di atas batu hitam di malam kelam tak luput dari pengawasan-Nya. Sehelai daun kering yang jatuh dari pohonnya di tengah hutan belantara tak lepas dari perhitungan-Nya. Sebutir debu yang diterbangkan angin di tengah padang pasir yang luas ada dalam kuasa-Nya. Deburan ombak di tengah samudera ada dalam genggaman-Nya.

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan segala apa yang keluar daripadanya, dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadannya. Dan Dia besamamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa kamu kerjakan” (QS Al-Hadid: 4).

Dengan keyakinan seperti ini, mereka tidak berani melanggar perintah dan larangan Allah. Mereka tidak berani memakan harta yang bukan miliknya, mereka tidak berani berdusta, dan mereka tidak berani melangkah di luar garis yang telah ditetapkan oleh Allah. Setiap pelanggaran akan ada dosa, dan setiap dosa akan berujung pada siksa api neraka. Ma’rifatullah akan melahirkan rasa takut pada siksa Allah.

Renungkanlah! Orang yang mengenal Allah dengan pengenalan yang mendalam, yakin bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia, tapi sering tidak disadari oleh manusia. Kita sering memuji-muji indahnya pemandangan alam yang terhampar di depan mata, tapi kita jarang memuji Pemberi mata kita. Kita sering kagum mendengar suara gemercik air mengalir dari bebatuan, tapi jarang sekali kita mengagumi kepada Pencipta telinga kita. Kita sering merasakan nikmatnya aneka makanan yang disajikan, tapi kita lupa pada Pemberi lidah.

Apa yang akan kita rasakan seandainya Allah me-nonfungsi-kan mata kita? Bagaimana sekiranya Allah mencabut pendengaran kita? Dan apa yang kita rasakan bila Allah menghilangkan daya kecap lidah kita? Semua itu mudah bagi Allah. Dan kita dapat menanyakan hal itu kepada orang-orang yang telah kehilangan nikmat-nikmat tersebut.

Ma’rifatullah semestinya melahirkan rasa cinta dan ketergantungan kepada Allah. Ma’rifatullah seharusnya memunculkan berbagai macam harapan, kiranya Allah mempertahankan dan menambah semua nikmat dan karunia yang telah Ia berikan.

Ma’rifah kepada Allah dapat kita lakukan dengan cara memikirkan dan menganilisis semua ciptaan Allah di jagat raya ini. Rasulullah Saw. bersabda, “Tafakkaruu fi khalqillaah, walaa tafakkaruu fi dzatillaah.” Pikirkanlah ciptaan-ciptaan Allah, dan jangan pikirkan tentang Dzat Allah. Al-Qur`an banyak mendorong kita untuk mendayagunakan potensi akal kita untuk mengenal Allah.

“Kami telah memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur`an itu adalah benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS Fushshilat: 53).

Sementara itu, kebodohan (jahl), kesombongan (takabbur), penyimpangan, dan kezaliman adalah penyakit-penyakit yang dapat menghambat seseorang untuk ma’rifah kepada Allah. Jauhilah sifat-sifat tersebut. Semoga Allah menjernihkan hati dan pikiran kita dan menjauhkan diri kita dari penyakit-penyakit yang dapat menghambat proses ma’rifah kita kepada Allah. Wallahu a’lam bishshawab.



Reblog this post [with Zemanta]