Tuesday, 6 May 2008

Berpartisipasi dalam Kerja-Kerja Amal Jama'i

Pada awalnya, Allah Ta’ala menciptakan seorang manusia di muka bumi ini, yaitu Adam AS. Setelah Iblis diusir Allah Ta’ala dari surga karena kesombongannya, tinggallah Nabi Adam AS sendirian di surga.

Dia berjalan-jalan sendirian di surga dalam kesepian. Saat dia tertidur, kemudian bangun, terlihat
seorang wanita tengah duduk di dekat kepalanya. Adam kemudian menyapa:”Siapakah
anda?” Jawab wanita tersebut:”Wanita”. Adam bertanya kembali:”Untuk apa
anda diciptakan?” Jawab wanita tersebut:”Supaya anda jinak kepadaku”.


Lalu, para Malaikat mendatangi Nabi Adam AS untuk mengetahui
sejauh mana ilmunya. Mereka bertanya:”Siapakah namanya, Adam?” Jawab Adam:”Hawwa!”
Malaikat bertanya:”Mengapa namanya Hawwa?” Jawab Adam:”Karena dia
dijadikan dari benda hidup” (Tafsir Ibnu Katsir).


Itulah interaksi sosial pertama yang terjadi antara dua manusia.
Interaksi sosial merupakan fithrah basyariyah (naluri manusia) yang menjadikan
hidup menjadi indah dan lebih bermakna. Keadaan Nabi Adam AS sebelum kedatangan
Hawwa digambarkan dalam Tafsir Ibnu Katsir “berjalan-jalan sendirian dan
kesepian”.


Setelah itu, lahirlah keturunan dari Adam dan Hawwa, baik
keturunan laki-laki atau perempuan, sehingga jumlahnya menjadi milyaran ummat
manusia seperti sekarang ini. Allah Ta’ala berfirman:“Hai sekalian manusia,
bertaqwalah kepada Rabbmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan
daripadanya Allah menciptakan isterinya dan daripada keduanya Allah
memperkembang-biakkan laki-laki dan wanita yang banyak …” (An Nisaa’ [4]:
1).


Firman-Nya yang lain:”Hai manusia, sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku …” (Al Hujuraat [49]: 13).


Dengan semakin berkembang biaknya laki-laki dan wanita dalam
jumlah yang banyak, menjadi bersuku-suku dan berbangsa-bangsa; maka mau tidak
mau, suka tidak suka, manusia akan berinteraksi dengan manusia lainnya. Baik
dalam lingkungan yang padat, atau dalam ligkungan yang jarang penduduknya.
Keharusan berinteraksi inilah yang menjadikan manusia sebagai makhluq sosial
seperti kakeknya terdahulu, Nabi Adam dengan Ibu Hawwa.


Allah Ta’ala berfirman:”… Dan bertaqwalah kepada Allah
yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah)
hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”
(An Nisaa’ [4]: 1).


Dalam firman-Nya yang lain:”… menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal …” (Al
Hujuraat [49]: 13).


Demikianlah, Allah Ta’ala telah menjelaskan kepada kita
rahasia penciptaan manusia yang beragam kulit, bahasa, tradisi dan alamnya.
Semuanya tidak dalam rangka manusia saling bermusuhan dan menumpahkan darah.
Tetapi untuk saling mengenal, saling membutuhkan dan saling mengunjungi.
Rasulullah SAW sendiri tidak pernah berupaya merubah nama suku shahabatnya;
seperti suku Auz dengan Kazraj, meskipun kedua suku tersebut pernah terlibat
peperangan yang lama. Rasulullah SAW tidak merubah kedua nama suku itu, yang
dihilangkan bukan namanya, tetapi sikap permusuhan di antara keduanya dan
diganti dengan sikap persaudaraan. Demikian pula antara shahabat Muhajirin dan
Anshar serta shahabat lainnya. Dan dengan begitu, kehidupan menjadi indah dan
menggairahkan.


ISLAM TIDAK ANTI SOSIAL


Rasulullah SAW mengajak ummatnya untuk bergaul dengan
masyarakatnya dan bershabar terhadap berbagai macam perilaku mereka. Sabdanya:”Seorang
Mu’min yang berinteraksi dengan masyarakat dan bershabar terhadap segala macam
cobaan dari mereka lebih agung pahalanya daripada seorang Mu’min yang tidak
berinteraksi dan tidak bershabar terhadap cobaan manusia” (HR. Muslim).


Kata “lebih agung pahalanya” merupakan dorongan Rasulullah
SAW kepada ummatnya untuk bergaul atau berinteraksi dengan manusia lainnya.
Sedangkan hijrah untuk meninggalkan manusia ramai kemudian menyendiri dalam
kehidupan merupakan perkara yang tidak diajarkan dalam Islam, karena Rasulullah
SAW telah bersabda:”Tidak ada lagi hijrah setelah penaklukan kota Makkah” (Riyadhush
Shalihin). Sebagai gantinya, Islam mengajarkan ummatnya untuk melakukan hijrah
ma’nawi atau isolasi mental. Rasulullah SAW bersabda:”Muhajir (orang yang
hijrah) adalah mereka yang meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah
Ta’ala” (HR. Muslim).


Dari sabda Rasulullah SAW ini, dapat kita fahami bahwa yang
dimaksud hijrah adalah meninggalkan segala sesuatu yang dilarang Allah Ta’ala,
tanpa harus berpindah secara fisik. Inilah yang dimaksud dengan hijrah ma’nawiyah
atau isolasi mental. Secara fisik bergaul dengan masyarakat ramai, tetapi secara
mental meninggalkan kemaksiatan yang mereka lakukan.


Tentu saja, yang dimaknai bergaul dengan masyarakat bukan
berarti bergaul secara akrab dengan para pelaku maksiat; sampai memberikan
solidaritas dan loyalitas kepada mereka. Karena Rasulullah SAW memberikan
peringatan:”Seseorang itu bersama agama temannya. Maka hendaklah seseorang
memperhatikan dengan siapa dia berteman” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).


Berarti yang dimaknai bergaul adalah berinteraksi dalam
perkara-perkara mu’amalah seperti jual-beli, bertetangga, berteman,
berorganisasi atau yang lain; sembari berda’wah untuk mengarahkan mereka
terbiasa dengan akhlaq-akhlaq Islami.


Beberapa orang Muslim yang ingin menyendiri dalam kehidupan dan
tidak mau bergaul dengan masyarakat ramai mempunyai alasan yang kurang tepat.
Beberapa sikap dan pemikiran yang kurang tepat adalah:



1. Belum berda’wah tetapi sudah memvonis



Islam tidak mangajarkan kepada ummatnya untuk menjadi tukang
vonis, tetapi Islam mengajak ummatnya untuk menjadi seorang da’i. Allah Ta’ala
berfirman:”Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang
yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka” (Al
Ghaasyiyah [88]: 21-22).


Seringkali kita memvonis masyarakat dengan vonis yang
menyakitkan, seperti: sesat, kafir, murtad, ahli neraka dan lain-lain. Sementara
kita sama sekali belum berd’awah kepada mereka dengan cara-cara yang diajarkan
Rasulullah SAW. Sikap seperti ini meneybabkan terjadi rentangan jarak yang jauh
antara kita dengan masyarakat. Atau, menyebabkan kita lebih suka menyendiri
daripada bergaul untuk berda’wah.


Tentu saja sikap seperti ini tidak tepat, karena berda’wah itu
adalah langkah pertama yang harus dilakukan dalam berhubungan dengan manusia.
Dan dengan da’wah pulalah kita bergaul dengan masyarakat ramai. Sedangkan
sikap suka menjatuhkan vonis kepada msyarakat bukanlah ajaran Islam, karena
Rasulullah SAW bersabda:”Saya tidak diutus untuk menjadi tukang cela, tetapi
untuk menjadi pemberi rahmat” (Tafsir Ibnu Katsir).



2. Semua jama’ah dan organisasi Islam sesat dan
firqah



Allah Ta’ala berfirman:”Yaitu orang-orang yang memecah-belah
agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa
bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (Ar Ruum [30]: 32).


Rasulullah SAW bersabda:”Ummatku terpecah menjadi
tujuhpuluhtiga firqah, tujuhpuluh dua masuk nerakadan satu yang masuk surga;
itulah jama’ah” (HR. Ahmad).


Dalil-dalil di atas atau yang serupa dengannya, seringkali
disikapi keliru oleh beberapa gelintir Kaum Muslimin. Sikap yang keliru tersebut
adalah:


a. Menganggap seluruh jama’ah Kaum Muslimin adalah sesat dan
firqah


b. Menganggap hanya jama’ahnya yang memenuhi kriteria di atas,
sehingga hanya jama’ahnya yang berhak masuk surga. Sedangkan jama’ah lain
akan masuk neraka.


Kedua sikap ekstrem tersebut tentu saja sikap yang tidak tepat.
Karena ayat beserta hadits di atas, atau yang sejenis dengannya, hanya
menunjukkan sifat-sifat golongan yang benar atau kelompok yang sesat.
Dalil-dalil seperti itu sama sekali tidak menunjukkan suatu nama tertentu.
Sehingga setiap kelompok, golongan atau jama’ah yang memenuhi sifat-sifat
kebenaran seperti itu masuk dalam golongan yang selamat; apapun namanya.
Demikian pula sebaliknya, jika ada kelompok, golongan atau jama’ah yang
memenuhi sifat-sifat kesesatan, maka dia akan masuk dalam golongan yang celaka;
apapun namanya.


Sehingga, tidak ada organisasi yang benar sendiri tidak pula
seluruh organisasi sesat. Kita lihat dulu sifat-sifat organisasi tersebut secara
obyektif. Sudut pandang inilah yang Islami dan menghindarkan diri kita dari
keengganan untuk bergaul dengan mesyarakat ramai yang mengikuti berbagai macam
organisasi.



3. Berinteraksi dengan pelaku maksiat dilarang
dalam Islam



Rasulullah SAW pernah bersabda:”Seseorang itu bersama agama
temannya. Maka perhatikanlah dengan siapa seseorang itu berteman” (HR. Abu
Daud dan Tirmidzi). Dengan sabda Rasulullah Saw ini ada beberapa Kaum Muslimin
yang beranggapan bahwa berinteraksi dengan pelaku maksiat itu dilarang.


Tentu saja pemahaman ini tidak seratus persen benar dan juga
tidak seratus persen salah. Yang diingatkan Rasulullah SAW adalah pertemanan
bukan interaksi. Yang diamksud dengan pertemanan adalah tempat seseorang
meletakkan rasa solidaritas, menumpahkan perasaan dan tempat memberikan
loyalitas. Pertemana seperti inilah yang harus dijaga tetap dengan orang-orang
yang shalih, bukan dengan para pelaku maksiat.


Sedangkan interaksi itu dapat bermakna sangat luas. Karena da’wah
itu sendiri adalah sebuah bentuk interaksi terus-menerus antara seorang juru da’wah
dengan obyek da’wahnya. Di antara obyek da’wah adalah para pelaku maksiat.
Tentu saja, interaksi da’wah dengan para pelaku maksiat bukan dalam rangka
pertemanan, yaitu bukan dalam rangka memberikan rasa solidaritas, menumpahkan
perasaan serta tempet memberikan loyalitas. Tetapi dalam rangka mengarahkan,
meluruskan serta mengurangi intensitas kemaksiatannya.


Seseorang yang menganggap interaksi dengan pelaku maksiat
dilarang menyebabkan dia mengambil sikap menyendiri dan menyepi serta
mengindarkan diri dari bergaul dengan sesama manusia. Sikap inilah yang tidak
tepat.



4. Sekarang ini adalah masa kerusakan



Rasulullah SAW bersabda:”Akan datang suatu masa yang menimpa
manusia; tidak ada Islam kecuali tinggal namanya saja, tidak ada Al Qur’an
kecuali tinggal tulisannya saja, masjid-masjid mewah tetapi kosong dari petunjuk
serta ulama’nya adalah orang yang paling jahat yang berada di bawah langit
…” (HR. Al Baihaqi).


Hadits di atas serta hadits-hadits yang sejenis dijadikan
sebagai alasan oleh beberapa Kaum Muslimin untuk menggambarkan kondisi zaman
sekarang ini. Sebagian berpendapat sangat ekstrem , yaitu sekarang adalah zaman
paling rusak dan sudah tidak mungkin lagi untuk diperbaiki kembali. Sehingga
mereka memilih mundur dan menyepi dari keramaian manusia; dengan anggapan supaya
selamat dunia akhirat.


Anggapan seperti ini tentu saja tidak dapat dikatakan benar
seratus persen. Karena masih banyak hadits lain yang menunjukkan bahwa akhir
zaman ditandai dengan kehadiran Dajjal, Nabi Isa, Imam Mahdi, Ya’juj dan Ma’juj
dan lain-lain. Semuanya itu belum terjadi. Belum lagi Rasulullah SAW pernah
bersabda:”… Kemudian akan datang lagi masa kekhilafahan yang ditegakkan atas
dasar-dasar kenabian ketika Allah berkehendak untuk mendatangkannya …” (HR.
Ahmad). Dan masa kekhilafahan kedua ini juga belum terwujud. Bagaimana bisa
bahwa zaman sekarang ini adalah rusak-rusaknya zaman, sementara ciri-ciri akhir
zaman belum terwujud?


Anggapan yang keliru seperti ini menyebabkan manusia mengambil
sikap yang tidak tepat pula; di antaranya adalah dengan mengasingkan diri dari
masyarakat ramai dan hanya asyik dengan dirinya-sendiri.



SIKAP DIRI



Sebenarnya, ada potensi dasar pada diri seseorang yang
menyebabkan masyarakat mudah menerima kehadirannya. Beberapa karakteristik dasar
tersebut antara lain:




  • Penduduk asli lebih diterima daripada pendatang



  • Orang tua lebih diterima daripada anak muda



  • Keturunan tokoh lebih diterima daripada keturunan orang
    biasa



  • Orang kaya lebih diterima daripada orang miskin



  • Orang yang suka memberi lebih diterima daripada orang yang
    pelit



  • Orang yang suka menolong lebih diterima daripada orang yang
    berat untuk menolong



  • Orang yang pandai bergaul lebih diterima daripada tidak suka
    bergaul



Potensi dasar ini harus senantiasa diupayakan supaya da’wah
kepada masyarakat mengalami percepatan yang signifikan. Proses percepatan dapat
melalui pernikahan, pelatihan, pendistribusian dana dan lain-lain.


Selain potensi dasar pada diri seseorang, terdapat pula sikap
diri yang harus dimunculkan dalam diri seseorang ketika bergaul dengan
masyarakat. Sikap diri inilah yang menyebabkan masyarakat lebih mudah menerima
kehadiran kita, tidak mempunyai alasan untuk memusuhi serta menyambut da’wah
kita atas ijin Allah Ta’ala.



1. Empati sebagai sikap dasar pergaulan



Sikap dasar pergaulan yang ideal adalah empati. Yang dimaksud
dengan empati adalah:



a. Memandang manusia dengan kacamata kasih-sayang



Allah Ta’ala mengutus Rasulullah SAW sebagai rahmah (kasih-sayang)
bagi seluruh penghuni bumi. Firman-Nya:”Dan tiadalah Kami mengutus kamu,
melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (Al Abiyaa’ [21]: 107).
Tentua saja kacamata rahmah (kasih-sayang) bersifat universal, yaitu ditujukan
kepada seluruh ummat di dunia. Baik yang Muslim atau Non Muslim, bahkan untuk
manusia atau binatang, tumbuhan dan benda-benda lain di dunia. Tetapi dalam
pembahasan kita kali ini, rahmat itu ditujukan kepada seluruh ummat manusia.


Inilah yang diajarkan Rasulullah SAW kepada Abdurrahman Bin ‘Auf
ketika dia meminta kepada Rasulullah SAW untuk membalas celaan orang-orang kafir
Quraisy. Rasulullah SAW bersabda:”Sesungguhnya aku ini diutus bukan untuk
menjadi tukang laknat (tukang cela), tetapi untuk memberikan rahmah (kasih-sayang)”
(Tafsir Inu Katsir).


Demikian pula, ketika Rasulullah SAW dilempari batu oleh
penduduk Thaif yang membawa kesedihan sangat mendalam di hati beliau. Maka
beliau berdo’a:”Ya Allah, ampunilah mereka. Karena sesungguhnya mereka
adalah kaum yang tidak mengetahui” (HR. Bukhary dan Muslim).


Begitulah ketika kita berinteraksi dengan masyarakat, kita harus
memandang mereka dengan kacamata kasih-sayang, bukan kebencian dan kemarahan.
Rasulullah Saw mengingatkan:”Jauhkan dirimu dari sangka-sangka, karena
sangka-sangka itu sedusta-dusta berita. Dan jangan meraba-raba dan jangan
menyelidiki kesalahan orang …” (HR. Muslim).


Segala bentuk perilaku masyarakat, baik yang menyenangkan atau
menjengkelkan hati kita, kita sikapi dengan tatapan kasih-sayang. Bukan balas-dendam,
kemarahan dan kebencian. Sambil kita berdo’a di hadapan Allah Ta’ala:” Ya
Allah, ampunilah mereka. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak
mengetahui”



b. Ikut merasakan alunan perasaan orang lain



Rasulullah SAW mengajarkan kepada seorang Muslim untuk
menghargai perasaan orang lain. Perasaan senang, sedih, gembira, kecewa, susah
dan lain-lain. Bentuk penghargaan perasaan kepada orang lain adalah dengan ikut
serta merasakan perasaan orang lain. Jika orang lain sedih, kita ikut
menampakkan ekspresi kesedihan. Jika orang lain bergembira, maka kita juga
semestinya menampakkan ekspresi kegembiraan. Begitu pula dengan
perasaan-perasaan yang lain.


Rasulullah SAW bersabda:”Jangan menunjukkan kegembiraanmu
dalam kesusahan saudaramu, maka Allah akan menyembuhkan (menyelamatkannya) dan
membalas ujian padamu” (HR. At Tirmidzi; Riyadhush Shalihin II, 450).


Tentu saja, sikap ini bukan bertujuan untuk memperparah keadaan.
Misalkan seseorang yang bersedih menjadi sedih berkepanjangan, atau seseorang
yang bahagia melampiaskannya dengan hura-hura berlebihan. Tetapi sikap ini
bertujuan untuk melegakan perasaan seseorang, terutama yang tengah dirundung
derita. Karena dalam kesedihannya, masih ada orang lain yang menanggapi dan
memberi perhatian kepadanya. Dalam suasana seperti itulah, nasihat yang baik
akan lebih menghujam di dalam qalbu.



c. Perhatian



Perhatian adalah sebuah bentuk pencurahan pikiran dan perasaan
seseorang untuk kebaikan orang lain. Lawan perhatian adalah cuek dan tidak mau
tahu persoalan orang lain. Orang seperti ini, cuek dan tak mau tahu, biasanya
cenderung egois atau hanya asyik dengan dirinya sendiri. Terserah saja apa yang
terjadi pada orang lain, asalkan tidak menimpa diri saya.


Bentuk perhatian ini tentu saja bukan bertujuan untuk mengorak
aib orang lain. Tetapi perhatian adalah lebih bertumpu kepada komitmen seseorang
untuk ikut membantu orang lain bergembira dan berbahagia.



d. Basa-basi



Basa-basi yang dimaksud di sini bukan berarti basa-basi tanpa
arti. Tetapi basa-basi yang dapat melunturkan rasa dengki dan kemarahan
seseorang kepada kita. Selain itu, basa-basi ini memang diajarkan oleh
Rasulullah SAW. Sabdanya:”Janganlah kalian meremehkan sedikitpun kebaikan,
meskipun hanya dengan wajah manis ketika bertemu dengan saudaramu” (HR.
Muslim).


Di antara bentuk basa-basi itu adalah:



i. Salam



Ucapan salam kelihatannya terkesan hanya sebuah basa-basi.
Tetapi sebenarnya, setiap manusia sangat suka menerima salam dari orang lain;
karena merasa mendapat perhatian. Rasulullah SAW bersabda:“Demi Dia yang
nyawaku berada di tangan-Nya. Kalian tidak akan masuk surga, sampai kalian
beriman. Dan kalian tidak akan beriman, sampai kalian saling berkasih-sayang.
Maukah kalian saya tunjukkan suatu perbuatan jika kalian lakukan akan tumbuh
rasa kasih-sayang di antara kalian? Sebarkanlah salam di antara kalian” (HR.
Muslim).



ii. Wajah Manis



Wajah ceria dengan senyum yang tulus merupakan bantuan moril
kepada orang lain untuk turut berbahagia menghadapi hari ini. Karena dengan
keceriaan wajah dan senyuman kita, seseorang akan terhipnotis ikut bergembira.
Untuk itulah Rasulullah SAW berpesan:“Janganlah kalian meremehkan sedikitpun
perbuatan yang ma’ruf meskipun hanya dengan berwajah manis ketika bertemu
dengan saudaramu” (HR. Muslim).



iii. Jabat-tangan



Jabat-tangan yang ikhlas akan melebur rasa dendam dalam hati dan
menggantikannya dengan rasa sayang serta saling memaafkan. Jabat-tangan juga
mampu menumbuhkan rasa akrab serta mencairkan ketegangan suasana. Rasulullah SAW
bersabda:“Tidaklah dua orang Muslim yang bertemu kemudian berjabat-tangan,
kecuali Allah mengampuni dosa di antara keduanya sampai keduanya berpisah”
(HR. Abu Dawud).



iv. Memanggil dengan nama yang disukai



Jika kita kenal nama seseorang, kemudian memanggil dengan
namanya, maka keakraban akan dengan cepat mudah terjalin. Terlebih lagi, bila
kita tahu nama kesukaan seseorang atau nama kebanggaannya, dan kita panggil
orang tersebut dengan nama-nama itu; maka perasaan in group akan cepat
tumbuh. Yaitu perasaan tidak terpisahkan antara kita dengan dirinya.


Allah Ta’ala berfirman:“… dan janganlah kamu
panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk …” (Al hujuraat [49]: 11).



v. Memberi hadiah



Hadiah dapat memupus rasa permusuhan dan menggantinya dengan
cinta. Rasulullah Saw bersabda:”Saling bertukar hadiahlah sehingga kalian
saling berkasih-sayang” (HR. Muslim).



2. Teladan sebagai contoh praktis kehidupan



Masyarakat sangat tidak menyukai teori dan konsep yang
muluk-muluk dan melangit; terutama sekali masyarakat awam. Tetapi masyarakat
lebih membutuhkan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari yang praktis dan
aplikatif. Karena itu, teladan merupakan bahasa yang tepat untuk berbicara
kepada masyarakat. Pepatah Arab mengatakan:”Bahasa teladan lebih fasih
daripada bahasa lisan”.


Misalnya, dalam masalah ibadah; sebelum kita mengajak masyarakat
menegakkan shalat, maka harus dimulai dari diri kita untuk senantiasa menegakkan
shalat. Kita mencontohkan rapi dan bersih dalam penampilan, pakaian dan rumah
tinggal serta kendaraan. Kita mencontohkan senantiasa memulai berbuat baik
kepada tetangga dengan menyapa, silaturahmi, memberi hadiah dan yang sejenisnya.


Allah Ta’ala mengecam manusia yang hanya mau berbicara, tetapi
tidak berupaya untuk menerapkan ucapannya sendiri dalam praktek amal keseharian.
Firman-Nya:”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakn apa yang
tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan
apa-apa yang tiada kamu kerjakan” (Ash Shaff [61]: 2-3).


Rasulullah Saw berpesan:”Mulailah dari dirimu sendiri!” (HR.
An Nasaa’i).



3. Memberi manfaat



Hendaklah kita tidak sekedar mencari keuntungan material dalam
berhubungan dengan masyarakat. Segala sesuatu hanya diukur untung-rugi secara
ekonomi.


Bila kita berperilaku seperti itu, maka masyarakat akan sulit
meraba keikhlasan hati kita dalam bekerja atau dalam berhubungan dengan mereka.
Sehingga mereka berhati-hati dalam berhubungan dengan kita, atau bahkan
menghindari. Mereka takut menjadi korban materi dalam berhubungan dengan kita.


Sudah semestinya, apabila kita justru berusaha banyak memberi
manfaat kepada masyarakat, tanpa terbesit dalam diri kita untuk mendapat ganti;
kecuali hanya keridhaan Allah semata. Demikian itulah yang diajarkan Rasulullah
SAW dalam hidup bermasyarakat.


Sebelum Muhammad menjadi Nabi, Khadijah RA menceritakan pribadi
beliau:”



4. Teguh pendirian



Banyak sekali perilaku masyarakat yang belum sesuai dengan
nilai-nilai Islam. Bahkan seringkali perilaku itu telah mengakar dan membudaya
dalam sebuah masyarakat. Misalnya sesaji ke kuburan, sesaji setelah bersih desa,
minuman keras saat ada hajatan dan lain-lain.


Tentu saja, kita dilarang untuk ikut-ikutan acara haram tersebut
dengan alasan untuk bermasyarakat. Bila kita mempunyai kekuasaan di masyarakat,
menjadi perangkat desa misalnya; maka kita dapat mengurangi sedikit demi sedkit
tradisi tersebut melalui jalur-jalur kekuasaan. Bika kita berani mengingatkan
secara lisan kepada mereka, maka dapat menegurnya. Tetapi, apabila kita tidak
mampu melakukan keduanya, cukuplah kita memiliki pendirian yang kuat untuk tidak
mengikutinya.


Rasulullah SAW bersabda:”Janganlah kalian menjadi orang yang imma’ah
(tidak punya pendirian) yang hanya berkata:”Saya bersama masyarakat. Bila
masyarakat baik, maka saya juga baik. Demikian pula, jika masyarakat buruk, saya
juga buruk”. Akan tetapi teguhkan pendirianmu, jika masyarakat berbuat baik,
maka berbuat baiklah. Dan jika masyarakat melakukan keburukan, maka
tinggalkanlah keburukan mereka” (HR. Muslim).



5. Memaklumi jangan minta dimaklumi



Rasulullah SAW telah menunjuk seluruh Kaum Muslimin sebagai
pemimpin dengan sabdanya:” Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap
pemimpin akan dimintai pertanggung-jawaban terhadap apa yang dipimpinnya” (HR.
Bukhary).


Dengan hadits itu, berarti seluruh Kaum Muslimin adalah pemimpin
baik dalam skala yang luas, yaitu memimpin masyarakatnya; dalam skala sedang,
memimpin rumah-tangganya; atau dalam skala kecil, yaitu memimpin dirinya sendiri.


Mental khusus seorang pemimpin adalah responsible (tanggung-jawab)
dan sense of belonging (rasa memiliki). Dengan dua setting mental inilah seorang
Muslim harus bekerja menghadapi masyarakatnya, karena dari sini tumbuh sikap
berusaha memaklumi orang lain dan tidak malah meminta untuk dimaklumi.


Tingkah-polah masyarakat yang berada di sekiling kita, kita
respon dengan sikap maklum. Sehingga kita mampu menghadapi mereka dengan tenang,
tidak emosi serta menghilangkan dendam kesumat dalam jiwa. Jika mereka mencela
kita, menghina kita, mencibir atau yang sejenisnya; cukuplah kita berdo’a
sebagaimana Rasulullah SAW berdo’a untuk penduduk Tha’if:”Ya Allah
ampunilah mereka, karena mereka orang yang tidak mengetahui” (HR. Bukhary dan
<>muslim).<>

INTERAKSI


1. Heterogenitas adalah anugerah Allah



Heterogentitas merupakan anugerah dari Allah Ta’ala, karena
Allah telah berfirman:” Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari
seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling mengenal …” …” (Al Hujuraat [49]: 13).


Sehingga heterogenitas bukanlah sebuah perkara yang harus kita
sesali, tetapi justru merupakan hal yang harus kita syukuri. Setiap suku
memiliki tradisi dan cara masing-masing; bahkan setiap orang memiliki perilaku
masing-masing meskipun mereka adalah suadara kembar. Tidak mungkin semua orang
itu baik akhlaqnya serta sehat aqalnya, tetapi ada juga yang rusak moralnya
serta kacau aqalnya. Tidak semua orang mudah menerima kebenaran, tidak semua
orang berani berjuang di jalan Allah, tidak semua orang terhindar dari
kriminalitas dan lain-lainnya.


Semua itu merupakan heterogenitas yang ada di muka bumi,yang
harus kita sadari sepenuhnya sebagai anugerah Allah Ta’ala. Sehingga kita
tidak mudah sempit dada melihat perbedaan-perbedaan yang tumbuh di antara
manusia, atau juga kita tidak cepat merasa putus-asa dengan menjalarnya
kemaksiatan dalam tubuh masyarakat kita. Semua itu sudah menjadi hukum alam (sunnatullah)
yang memang demikianlah keadaannya.



2. Mengenali obyek da’wah dengan terperinci



Kita harus senantiasa berupaya mengenali obyek da’wah kita
dengan teliti. Semakin teliti kita menegnali obyek da’wahkita, semakin tepat
kita memberikan therapi kepada mereka, serta semakin kecil tingkat kesalahan
kita dalam berhadapan dengan mereka.


Setiap masyarakat memiliki potensi beragam serta tingkat
sensitifitas yang berbeda. Permasalahan ini harus kita teliti secara mendalam,
sehingga kita dapat menumbuhkan potensi mereka, seiring dengan upaya kita untuk
mereduksi perilaku mereka yang negatif.



3. Berbicara sesuai budaya setempat



Setiap kaum memiliki karakter dan tradisi yang berbeda-beda.
Dari sisi bahasa, misalnya, setiap kaum memiliki kosa-kata yang bervariasi serta
dialek yang beragam. Sesama Bahasa Jawa saja memiliki kosa-kata yang bervariasi
serta dialek yang beragam. Antara Bahasa Jawa Timur, Tengah atau Barat terjadi
berbagai macam perbedaan. Bahkan antara Bahasa Jawa di Jawa Timur sendiri
terdapat berbagai ragam perbedaan. Belum lagi antara Bahasa Jawa dengan bahasa
daerah lainnya. Tentu saja terjadi banyak perbedaan. Apalagi antara bahasa
nasional dengan bahasa asing.


Seorang da’i akan sangat mudah diterima masyarakat apabila
mengenali bahasa mereka dan adat komunikasi antar mereka. Penerimaan secara
pribadi ini akan berdampak terhadap penerimaan nilai-nilai yang kita tawarkan
kepada mereka, yaitu nilai-nilai Islam. Maka berbicaralah dengan bahasa
masyarakat setempat.


Allah Ta’ala telah berfirman:“Kami tidak mengutus seorang
Rasul-pun melainkan dengan bahasa kaumnya supaya dia dapat memberi penjelasan
dengan terang kepada mereka …” (Ibrahiim [14]: 4).



4. Berbicara sesuai kadar aqal



Kecerdasan setiap orang tentu saja berbeda, demikian pula dengan
kecerdasan rata-rata antara masyarakat yang satu dengan masyarakat lainnya.
Rasulullah SAW memerintahkan supaya kita berbicara disesuaikan dengan kadar akal
masyarakat. Apabila mereka lemah akalnya, maka berbicaralah dengan bahasa yang
sederhana dan mudah dimengerti oleh akal mereka. Sebaliknya, apabila kita
berbicara dengan masyarakat yang lebi cerdas, maka kita dapat berdiskusi dengan
mereka terhadap berbagai hal.


Rasulullah SAW bersabda:“Kami para Nabi diperintahkan supaya
berbicara kepada manusia sesuai dengan kadar akal mereka” (HR. Muslim).



5. Tidak mengumbar janji



Janganlah mudah mengumbar janji kepada masyarakat, karena mereka
akan menagih janji kita untuk direalisasikan. Jika kita kemudian memenuhi janji
kita, mereka akan menganggap sebagai perkara yang biasa; karena memang janji
harus ditepati. Sedangkan bila kita tidak mampu menepati janji, maka masyarakat
akan mencemooh kita dan tentu saja kredibilitas kita di hadapan mereka akan
jatuh-berantakan.


Lain lagi apabila kita tidak berjanji. Apabila kita tidak
melakukannya, masyarakat akan maklum, karena memang kita tidak pernah
menjanjikannya. Sebaliknya, jika kita memenuhi sesuatu padahal kita tidak
berjanji sebelumnya, masyarakat justru akan salut kepada kita.


ntuk itu, fikirkanlah baik-baik sebelum kita menjanjikan sesuatu
kepada masyarakat. Allah Ta’ala juga telah berfirman ketika mencirikan orang
yang beriman:”Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya)
dan janji-janjinya” (Al Mu’minuun [23]: 8)



MUSYAWARAH



Musyawarah merupakan cara penyelesaian masalah di dalam
bermasyarakat. Prinsip-prinsip musyawarah alam Islam telah difirmankan Allah Ta’ala:”Maka
disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya
kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan
bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah
membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” (Ali Imran [3]: 159).


Dari ayat di atas ada beberapa prinsip musyawarah:

1. Lembut hati



Lembut hati merupakan prinsip pertama di dalam bermusyawarah,
terutama untuk pemimpin musyawarah, atau orang yang mempunyai mental pemimpin.
Rasulullah SAW bersabda:”Setiap kalian adalah pemimpin” (HR. Bukhary),
sehingga kita harus memiliki mental pemimpin pula; yaitu lembut hati dalam
berhadapan dengan masyarakat. Terutama sekali ketika bermusyawarah.


Lembut hati tidak semakna dengan tidak memegang prinsip, tidak
tegas, pesimis atau rendah diri. Tetapi, lembut hati lebih bertumpu kepada
menampilkan segala sesuatu dengan halus, seperti menampilkan ketegasan dengan
bahasa yang lembut, mempertahankan prinsip dengan kehalusan dan sejenisnya.



2. Kelembutan hati merupakan rahmat Allah



Kesadaran ini sangat penting, yaitu kelembutan hati itu
semata-mata merupakan rahmat Allah ta’ala kepada hamba-Nya; bukan karena
kepiawaian seseorang dalam menata hatinya. Perasaan ini penting untuk kita
tanamkan dalam diri kita karena:




  • Menghindarkan diri dari rasa sombong dan takabur



  • Menghadirkan kelembutan dengan cara yang disyari’atkan
    Islam



  • Segala hasilnya dapat kita kembalikan kepada Allah




3. Hindarkan sikap keras dan kasar hati


4. Memaafkan


5. Mendoakan ampun


6. Musyawarah



Ada beberapa prinsip musyawarah:




  • Musyawarah merupakan tempat tertinggi mengambil keputusan



  • Tidak ada musyawarah tandingan yang se-level



  • Habis-habisan dalam musyawarah



7. ‘Azzam ketika tercapai kesepakatan


8. Tawakkal terhadap keputusan bersama

Demikianlah upaya kita dalam hidup bermasyarakat dan ikut
berperan-aktif di dalamnya. Semoga Allah Ta’ala memberi kekuatan kepada kita
untuk merealisasikannya. Amiin …